Menjadi super kaya karena saham

Orang-orang kaya menjadi super kaya bukan karena menjual barang/jasa tetapi karena dia menjual dan mampu memberikan harapan kepada  pelaku ekonomi. Orang kaya menjadi super kaya karena memilik imereka saham bukan memiliki barang/ jasa yang dijual perusahaan, karena saham mewakili semua yang ada dalam perusahaan tersebut.

Baru-baru ini majalah globe asia mengeluarkan daftar orang kaya di Indonesia dimana beberapa diantaranya merupakan wajah-wajah lama.  Dari sekian nama yang tercantum dalam daftar tersebut kebanyakan merupakan pemegang saham perusahaan terbuka. Apakah ada korelasi antara menjadi pemegang saham perusahaan terbuka dengan kekayaan mereka. Secara langsung maupun tidak langsung jelas mempunyai hubungan kuat. Para orang kaya ini dari tahun-tahun kekayaan terus bertambah seiring dengan kenaikan harga saham perusahaannya. Nilai saham yang mereka miliki baik langsung maupun tidak langsung terus naik seiring kenaikan kinerja perusahaan, kondisi ekonomi makro, corporate action hingga akal-akal menaikan harga saham.

Sebagai contoh Aburizal Bakrie pengusaha yang sekarang menjabat sebagai menko kesra kekayaan menanjak hampir  $5.4 milyar. Harga saham perusahaannya seperti Bakrie& brothers, Bakrie Development, Bakrie Telecom dan yang monumental Bumi Resources naik berlipat-lipat. Sebagai contoh harga Bumi Resorces yang harganya pernah menyentuh Rp 30 per saham pada tahun 2003 saat ini mencapai 7000 per lembar. Masih ada pengusaha Budi Hartono pemilik perusahaan rokok Djarum pemilik tidak langsung Bank BCA, Arifin Panigoro dengan perusahaan pertambangan minyaknya Medco, Chairul Tanjung dengan Group Para, Eka Tjipta Widjaja dengan Group Sinar Mas, Sukanto Tanoto  dengan Asia Agri , Moktar Riadi dengan Group Lippo, Ciputra dengan Group Ciputra, Peter sondakh dengan Group Rajawali, Hary Tanoe dengan Bhakti Investama. Masih banyak pengusaha yang menjadi kaya dan super kaya karena harganya sahamnya meningkat ( capital gain ) dan mendapatkan deviden dari kinerja perusahaan.  Lalu bagaimana kenaikan kekayaan mereka di dapat ?

Pertama.

Para pengusaha pada awalnya merintis atau membeli perusahaan yang belum listing yang sedang berkembang kemudian dengan alasan untuk menambah modal, meningkatkan nilai perusahaan dan untuk lebih meningkatkan akses dan jejaring bisnis dengan perusahaan keuangan maupun investor maka mereka mencatatkan sahamnya di bursa lewat IPO. Biasanya mereka melepas hak kepemilikan sahamnya berkisar 20% sampai dengan 35 %. Dengan bekerjasama dengan perusahaan penjamin emisi mereka membentuk harga yang akan dijual kepada publik berdasarkan nilai aset perusahaan. Penjamin emisi mempunyai tugas membuat prospektus, manawarkan saham kepada publik hingga menjadi pembeli siaga jika saham yang dijual tidak laku. Prospektus biasanya berisi data kinerja perusahaan meliputi data manajemen, pemegang saham, kondisi keuangan hingga potensi dan resiko bisnis dimasa mendatang. Adapun harga saham yang akan dijual tentunya mempunyai harga yang lebih tinggi dari nilai bukunya. Sebagai contoh harga buku saham seharga Rp. 100 / lembar bisa dijual dengan harga Rp. 500/ lembar atau dengan kata lain dijual dengan harga 5x harga bukunya. Bayangkan dalam tempo sekejap harga saham meningkat 5 kali lipat. Peningkatan harga saham ini belum berhenti,  dalam mekanisme bursa harga ini bisa terus meningkat seiring mekanisme pasar. Jangan heran pada hari pertama awal perdagangan saham yang baru dicatatkan dibursa saham bisa melonjak hampir 70 % sebelum biasanya dihentikan oleh regulator lewat auto rejection. Dari ilustrasi tersebut bisa dibayangkan jika pengusaha tersebut mempunya saham dengan nilai sebesar Rp. 100 milyar dalam sekejap harganya meningkat minimal Rp. 500 milyar. Nilai peningkatan tersebut baru dihitung berdasarkan selisih nilai jual antara nilai buku dan nilai penawaran pada saat IPO, belum menambahkan nilai kenaikan pada saat  hari pertama awal perdagangan saham. Nilai saham ini akan terus naik dari tahun ke tahu tentunya seiring dengan kenaikan kinerja perusahaan.

Kedua.

Para pengusaha ini biasanya membeli perusahaan yang sudah listing di bursa baik didalam negeri maupun luar negeri yang sedang mengalami penurunan kinerja. Pembelian saham ini bisa menggunakan perusahannya langsung maupun dititipkan ke perusahaan investasi di luar negeri. Adapun perusahaan yang dipilih adalah yang sedang mengalami penurunan kinerja yang disebabkan karena kesalahan tata kelola perusahaan, tetapi secara bisnis masih mempunyai peluang untuk berkembang. Dengan kinerja yang kurang bagus, tentunya perusahaan ini dibeli dengan nilai murah. Setelah menjadi pemegang saham dan berusaha menjadi pemegang saham pengendali maka selanjutnya adalah menggunakan haknya untuk merubah susunan manajemen dengan memasukan orang-orang yang dinilainya mampu meningkatkan kinerja bisnis. Langkah selanjutnya adalah mengundang investor dan lembaga keuangan untuk membiayai rencana bisnis yang disusun oleh manajemen baru. Bahkan jika memungkinkan manajemen baru tersebut mengusulkan untuk menerbitkan saham baru ( right issue ) kepada pemegang saham lainnya. Dengan mengeluarkan saham baru tentunya nilai aset perusahaan sebagai meningkat. Biasanya langkah kedua ini diikuti dengan agresifitas manajemen melakukan corporate action seperti mencari hutang, menjual aset non produktif maupun produktif, right issue, akuisisi bisnis bahkan merger.  Langkah-langkah corporate action ini biasanya direspon positif  dipasar saham, karena cepat atau lambat akan berdampak terhadap peningkatan harga saham.  Contoh kongkrit kasusnya adalah PT Bimantara Citra Tbk yang dibeli oleh PT Bhakti Investama Tbk  milik Hary Tanoe yang selanjutnya dirubah namanya menjadi PT Global Mediacom. Harga saham PT Bimantara Citra Tbk dan PT Bhakti Investama Tbk meningkat seiring dengan corporate action yang dilakukan oleh kedua manajemen tersebut. Contoh lainya adalah Bank BCA yang dibeli oleh Group Djarum dari BPPN. 

Dalam ekonomi modern kekayaan yang luar biasa banyak didapat dengan mempunyai paper aset dalam bentuk saham dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh ekspetasi pasar yang cukup tinggi hingga kerakusan pelaku ekonomi dengan menggalang dana untuk memenuhi hasrat superiornya menjadi penguasa ekonomi.( FI )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: