Menjadi Kaya di Pasar Modal Bukan Isapan Jempol

Yang perlu dilakukan adalah memahami produk dan karakteristik investasi, mampu bertoleransi terhadap risiko yang muncul, serta well inform dan well educated.

Dewasa ini kesadaran masyarakat terhadap investasi makin tinggi. Sejalan dengan meningkatnya nilai transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sejumlah konsultan keuangan juga makin giat menjajakan mengenai strategi investasi di pasar modal. Ada yang beriklan “Menjadi Kaya di Pasar Modal Setelah Pensiun”. “Trik dan Strategi Menangguk Keuntungan di Bursa Saham” dan sebagainya. Munculnya fenomena tersebut memang bukan tanpa sebab, menyusul return yang dihasilkan sejumlah produk investasi konservatif sudah tidak optimal lagi.Bayangkan hanya dalam enam bulan indikator perdagangan saham sudah melonjak puluhan persen. Awal tahun 2007 indeks harga saham gabungan masih berkisar pada level 1.800 poin, tapi pada Juli ini sudah mencapai level 2.400 poin. Kenaikan yang 600 poin setara dengan 25 persen itu menandakan kian menariknya investasi di bursa saham. Mungkin hal itulah yang menjadikan kelas tentang strategi investasi saham dan sejumlah produk derivatif yang ditawarkan banyak konsultan keuangan cukup ramai dikunjungi calon investor.Berbekal indikator kenaikan harga saham yang sangat fantastis itu pula membentuk inspirasi menjadi kaya setelah pensiun di pasar modal memang menjadikan nyata adanya, bukan isapan jempol belaka. Apalagi bila keuntungan tersebut dibandingkan dengan instrumen investasi konservatif yang kini dikenal masyarakat semisal tabungan atau deposito yang kisarannya hanya sekitar tujuh persen setahun. Terkait dengan maraknya ajakan investasi di pasar modal ini, tampaknya segenap pelaku pasar modal perlu menyatakan terima kasih.

Alasannya, makin banyaknya jasa konsultan keuangan yang memberikan pendidikan tentang arti sebuah investasi, maka makin besar peluang investor lokal menjadi tuan rumah di bursa sendiri. Tidak itu saja, makin banyaknya investor berinvestasi di pasar modal dengan sendirinya juga akan membantu upaya pemerintah dalam menggerakkan sektor riil. Namun di tengah euforia tentang keberhasilan bursa saham akhir-akhir ini, calon investor diharapkan juga tidak terlalu overestimated. Karena bagaimana pun investasi selalu mengenal risiko. Untuk itu pemodal perlu memahami risiko investasi, memahami karakteristik produk-produknya, serta produk yang menjadi underlying-nya apabila produk investasi yang ditawarkan merupakan produk derivatif. Perlu diingat bahwa produk investasi pasar modal pun tidak menjanjikan keuntungan yang pasti.

Yuridiksi Pasar Modal.

Sebagai wahana dan alternatif investasi, Pasar Modal berpayungkan UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pelaksana dari UU Pasar Modal ini adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sebuah instansi setaraf eselon satu pada Departemen Keuangan. Sedangkan penyelenggara perdagangan adalah bursa, yakni Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Kedua bursa ini didukung sebuah lembaga kliring dan sebuah lembaga penyimpanan yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).Produk pasar modal lazimnya didahului dengan istilah efek. Efek yang bersifat utang disebut juga obligasi, efek yang bersifat kepemilikan adalah saham, sedangkan efek yang bersifat penyertaan disebut sebagai reksa dana. Di samping efek tersebut, pasar modal juga mengenal efek derivatif atau instrumen investasi yang patokannya (underlying) adalah efek tertentu yang dijajakan di pasar modal. Misalnya right atau hak yang merupakan turunan dan saham, lalu waran berupa sweeteners yang juga merupakan turunan dari saham. Produk derivatif saham lainnya adalah apa yang dinamakan sebagai KOS yakni kontrak investasi saham (KOS) yang underlying adalah beberapa jenis saham yang ditentukan oleh BEJ.

Sementara itu turunan obligasi ada yang dinamakan obligasi konversi, atau obligasi yang bisa dikonversi menjadi saham, lalu ada obligasi tukar yang bisa ditukar dengan aset tertentu. Sedangkan untuk unit penyertaan atau reksa dana, variasi produknya adalah untuk kepentingan apa reksa dana itu dibentuk. Apabila reksa dana dibentuk untuk investasi saham, maka reksa dana tersebut disebut sebagai reksa dana saham. Kalau reksa dana dibentuk untuk obligasi dikatakan reksa dana obligasi atau fixed income. Sementara reksa dana yang dibentuk untuk obligasi dan saham dikatakan sebagai reksa dana campuran. Reksa dana yang dibentuk untuk perdagangan surat berharga, seperti pasar uang dan valas maka dikatakan sebagai reksa dana pasar uang. Tiap-tiap reksa dana ini merupakan kontrak investasi kolektif atau sederhananya adalah sebuah kontrak investasi dengan tujuan yang telah disepakati bersama sesuai dengan tujuan pembentukannya.Yang patut diingat bahwa tiap kali reksa dana itu ditawarkan harus melalui penawaran umum. Melalui prosedur sebagaimana go public dan harus diperolehnya pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Produk-produk investasi tersebut memiliki risiko. Risiko utamanya adalah risiko pasar, sehingga tidak ada janji atau iming-iming keuntungan sebagaimana investasi bodong yang kini banyak terungkap. Yang dilakukan di pasar modal adalah me-maintenance risiko atau meminimalkan risiko. Karenanya investasi di pasar modal sarat dengan berbagai faktor, faktor ekonomi, faktor pasar, sosial politik, bahkan pengaruh faktor yang sama dari eksternal, misalnya faktor ekonomi regional, faktor pasar regional dan faktor sosial politik regional.

Risiko Investasi.

Tiap-tiap produk investasi di pasar modal memiliki risiko investasi. Risiko investasi adalah bila tingkat keuntungan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saham sebagai bukti kepemilikan yang menjadi faktor risiko utamanya adalah kerugian yang muncul akibat harga beli lebih tinggi ketimbang harga jual. Faktor kerugian ini sekaligus menjadi keuntungan apabila harga saham yang dibeli ternyata ketika dijual harganya lebih tinggi sehingga investor memperoleh capital gain. Di samping capital gain, investor juga memperoleh dividen yakni berupa pembagian laba yang biasanya dibagi setahun sekali.Risiko obligasi adalah apabila tingkat bunga yang ditawarkan pada waktu tertentu ternyata lebih tinggi ketimbang obligasi yang dibeli. Wanprestasi atau tidak terbayarnya obligasi juga menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan investor. Sedangkan risiko reksa dana adalah apabila harga saham yang dibeli mengalami penurunan sehingga akan menurunkan nilai unit penyertaan investor.

Risko KOS juga relatif sama, apabila investor melakukan kontrak beli pada harga yang diprediksi tinggi namun ternyata harga saham yang menjadi underlying turun dengan demikian investor tersebut harus menanggung rugi. Intinya semakin tinggi risiko maka peluang memperoleh keuntungan atau kerugian yang tinggi juga besar.Kendati memiliki risiko, daya tarik investasi di pasar modal adalah investor tetap memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan di masa datang. Contohnya apabila investasi saham investor mengalami penurunan (harga beli lebih rendah ketimbang harga jual) maka investor bisa melakukan hold atau menyimpan saham tersebut, menunggu saham tersebut kembali naik atau menyimpan dalam kurun waktu setahun sehinga berhak memperoleh dividen. Karena itu investasi di pasar modal lebih bersifat jangka panjang, bisa sebagai tabungan dan sebagainya. Hal yang sama juga bisa diperoleh dari reksa dana. Misalnya NAB reksa dana saham turun, dan sebagai investor yang berpikir jangka panjang tidak akan melakukan penjualan (redepmtion) atas saham tersebut karena masih ada peluang NAB saham itu kembali naik, atau bisa melakukan redemption pada reksa dana tersebut lalu pindah ke reksadana jenis lain.Risiko investasi dan seluk beluk produk investasi di pasar modal ini memang patut dipahami oleh investor. Karena dengan iklim investasi di pasar modal yang sangat kondusif seperti saat ini banyak produk yang “menyerupai” produk pasar modal banyak ditawarkan bahkan dengan iming-iming janji keuntungan segala. Karenanya untuk menjadi kaya di pasar modal yang perlu dilakukan adalah memahami produk dan karakteristik investasi, lalu sejauh mana mampu bertoleransi terhadap risiko yang muncul serta well inform dan well educated. (tim bej)  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: