Menjadi Kaya dari Pasar Modal

Kondisi tersebut berbeda dengan masyarakat di negara maju. Pasar modal di sana berkembang karena masyarakatnya sudah terbiasa merencanakan masa depannya, termasuk masa depan harta bendanya. Kegiatan investasi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat negara maju. Mereka juga sudah terbiasa berinvestasi di pasar modal, sedangkan perusahaan yang memanfaatkan dana pasar modal itu bisa maju, karena adanya suntikan dana masyarakat tersebut. Berdasarkan data yang dirilis Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun lalu, jumlah investor lokal di bursa Malaysia telah mencapai 13% dari populasi penduduknya. Di Jepang sebesar 20%, Singapura 33% dan Amerika Serikat mencapai 32%. Sedangkan jumlah investor lokal di pasar modal Indonesia baru sekitar 0,03% dari populasi penduduk Indonesia yang mencapai 210 juta jiwa. Ini karena mayoritas masyarakat Indonesia masih menyukai berinvestasi di sektor perbankan dan investasi konvensional lainnya.

Padahal, menurut Direktur PT Schrooders Investment Indonesia Michael Tjoajadi, berinvestasi di pasar modal itu bisa membuat kaya, karena masyarakat yang mengeluarkan dananya untuk membeli saham berarti membeli perusahaan. “Bisa menjadi kaya dari pasar modal. Kalau hanya terpaku pada produk perbankan, itu pemiskinan,” katanya saat diskusi Investasi di Pasar Modal, pekan lalu. Pasalnya, suku bunga yang diberikan kepada mereka yang menitipkan dananya di perbankan itu kecil, bahkan di bawah inflasi. Padahal, filosofi investasi yang berhasil itu adalah jika tingkat keuntungannya berada di atas inflasi. Berinvestasi di saham memang memberikan potensi keuntungan yang besar. Potensi keuntungannya berupa capital gain dan dividen. Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli saham dengan harga jualnya. Sedangkan dividen adalah bagian keuntungan yang diterima pemegang saham setiap tahun atas laba yang diperoleh oleh perusahaan.

Di pasar modal, return atau tingkat pengembalian investasi dimungkinkan mencapai 20%-40% per tahun bagi yang tepat memilih saham. Tentu saja, potensi keuntungan yang tinggi itu dibarengi dengan risiko yang besar pula. Tapi, mungkinkah menjadi kaya dari pasar modal? “Mungkin saja. Asalkan investor itu mau belajar. Di pasar modal itu juga terdapat produk-produk yang baik,” tambah analis pasar modal Edwin Sinaga.

Tip berinvestasi saham versi Michael Tjoajadi

· Membeli saat harga turun dan menjual saat harga tinggi

· Membeli saham secara bertahap dan sedikit demi sedikit

· Membeli saham dari perusahaan yang fun-damental baik

· Tidak terpancing oleh fluktuasi harga. Lakukan analisis fun-damental dan informasi

· Sabar, karena investasi di saham membu-tuhkan waktu untuk memetik hasilnya.

Jadi investor, menurut Edwin, jangan malas belajar. Masyarakat yang mau belajar juga tidak rentan tertipu oleh produk investasi yang menjanjikan tingkat keuntungan menggiurkan, seperti kasus Dressel Investment, dan Qisar.

Tipikal produk

Salah satu pembelajaran yang penting diketahui oleh investor adalah mengenal tipikal produk investasi dan potensi risikonya. Pengetahuan terhadap risiko itu bakal membantu memperkecil kemungkinan salah investasi. Dalam berinvestasi, Michael menyarankan investor di pasar modal harus melihat prospek jangka panjang. Alasannya, kalau investor hanya berorientasi jangka pendek, maka yang dilihat hanya kerugiannya saja. Dia mencontohkan, saat indeks harga saham gabungan (IHSG) BEJ tinggi seperti sekarang ini, investor yang membeli saham saat harganya masih rendah, tentu akan memetik keuntungan.

Sebaliknya, investor yang membeli saham saat harganya sudah tinggi akan berpikiran merugi. Padahal, Michael mengingatkan fluktuasi indeks atau harga saham itu hal yang biasa saja. Karena itu, sarannya, investor sebaiknya membeli saham saat harganya masih rendah dan menjual saat harganya tinggi. Nasihat lainnya, investasi membeli saham itu sebaiknya dilakukan bertahap atau sedikit demi sedikit, mengingat kita tidak tahu kapan harga saham itu berada dititik terendah. Kalau membeli saham saat harganya merosot tajam, menurut dia, hal itu berbahaya. Sebab, jelasnya, harga saham yang anjlok itu bisa jadi mengindikasikan sedang ada masalah dalam perusahaan. “Jadi, membeli saham yang harganya sedang turun, dengan membeli saham murah itu beda maknanya,” ujar dia. Karena itu, dia menekankan agar masyarakat membeli saham dari perusahaan yang baik saja.

Caranya, investor harus melihat fundamental perusahaan, menganalisis informasi, sabar dan mengasah ketrampilan investasinya. Pergerakkan IHSG menjadi salah satu informasi yang penting dianalisis oleh investor. IHSG yang berfluktuasi itu, kata Kepala Divisi Riset Ekuiti PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata, hendaknya ditanggapi secara wajar oleh investor. Harga saham unggulan seperti Telkom sekalipun, ungkapnya, bisa terkoreksi. Tapi, investor yang membeli saham kategori unggulan, tambahnya, risiko kerugiannya lebih kecil. Tahun ini, Mega Capital memprediksikan IHSG akan berada di level 2.300-2.500. Pasar saat ini dinilai dalam kondisi yang strategis untuk investasi.

Namun, kesediaan investor untuk belajar sebagaimana dikatakan oleh Michael, Edwin dan Felix itu penting bagi mereka yang ingin berinvestasi di produk pasar modal. Cara belajarnyapun beragam. Saat ini, buku investasi banyak ditemui di pasaran. Melihat film berjudul Boiler Room, Rogue Trader dan Wall Street, juga bisa menjadi sarana untuk memahami trik-trik berinvestasi.  Suli H. Murwani sumber : Bisnis Indonesia   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: