Kris Wiluan, dari Programmer Jadi Konglomerat dan sepak terjang bisnisnya

kw.jpg

JAKARTA, Investor Daily

Perjalanan Kris Taenar Wiluan menjadi konglomerat cukup panjang. Berawal ketika ia menyelesaikan studinya pada 1971, Kris Taenar Wiluan bekerja di Guest, Keen and Nettlefold (GKN Group) di Inggris sebagai Computer Programmer/analyst.
Pada 1973, dia kembali ke Singapura dan bekarir di United Motor Works (UMW) sebagai General Manager. UMW adalah perusahaan publik yang tercatat di Bursa Singapura dan Malaysia yang mendistribusikan mesin dan alat berat. Di sana Kris bertanggungjawab pada penjualan dan pengembangan bisnis di Indonesia.
Pada 1977, dia memulai bisnis sendiri di bidang kontraktor Supplier and Logistic untuk perusahaan-perusahaan minyak multinasional di Indonesia.Bisnis keluarga Kris di Indonesia adalah distributor suku cadang otomotif dan pelumas mesin, kimia industri, dan bumbu masak yang dimulai sejak 1950 oleh ayahnya bernama Henk Wiluan. Pada 1979, dia mereorganisasi bisnis sang Ayah menjadi perusahaan holding keluarga di bawah bendera PT Citra Bonang dengan mempekerjakan 150 karyawan.

Pada 1983, bisnis pribadinya di bidang perakitan peralatan pengeboran minyak dikonsolidasikan ke dalam PT Citra Tubindo. Sebuah perusahaan yang bergerak di perakitan dan pemrosesan pipa pengebor minyak, casing, dan tubing yang berbasis di Pulau Batam. Saat ini, Citra Tubindo telah mencatatkan sahamnya di papan utama Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Perseroan merupakan pemasok utama Oilfield Tubular (Seamless Steel Pipes) untuk keperluan eksplorasi minyak/gas, produsen dan distributor minyak/gas. Kiprah bisnis Citra Tubindo bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia dengan mengoperasikan pabrik hasil joint venture di Labuan-Malaysia, Vung Tao-Vietnam, serta Songkla dan Sathahib-Thailand.

Citra Tubindo menyuplai sejumlah perusahaan besar di Asia, Australia, Timur Tengah, Rusia, Amerika Selatan, dan AS.

Pada 1986, Kris membangun resor terintegrasi di Nongsa, Batam yang dilengkapi dengan lapangan golf (karya Jack Nicklaus), sebuah International Marina dengan holiday chalets, dan sebuah hotel resor untuk pemancingan, diving, dan echo tourism. Untuk menuju resor hanya diperlukan 25 menit perjalanan ferry dari ter minal Tanah Merah, Singapura dan 15 menit melalui jalan darat dari Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.

Saat ini Citra Tubindo beserta 35 anak perusahaannya berada di bawah naungan perusahaan holding, Citramas Group dengan memperkerjakan total 2.000 karyawan. Seluruhnya di bawah kendali Kris.

Cakupan bisnisnya pun bertambah menjadi perakitan peralatan pengeboran minyak, pelayaran dan logistik, jasa pengeboran, pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, terminal ferry dan perusahaan telepon, serta hotel dan industri liburan.

Kris adalah Presiden dan CEO Citra Tubindo, Presiden Citramas Group yang berbasis di Batam, dan Direktur Utama perusahaan keluarga, Citra Bonang yang berbasis di Jakarta. Perusahaan yang disebut terakhir memiliki 1.000 karyawan di 12 anak perusahaan dan lebih dari 50 cabang di seluruh Indonesia. (gie)

Kris Wiluan Beli KS Energy Seharga Rp 1,02 T

13/04/2006 01:46:42 WIB
SINGAPURA -Pacific Oilfields Equipment Investment Corp, perusahaan milik pengusaha infrastruktur migas Indonesia Kris Wiluan, membeli 29,9% saham KS Energy Services Ltd yang berbasis di Singapura seharga S$ 181,5 juta (Rp 1,02 triliun). Manajemen KS Energy, Selasa (11/4), menyatakan, pemegang saham Kim Seng Holdings Pte Ltd menjual saham perusahaan yang bergerak dalam bisnis perawatan anjungan minyak itu ke Pacific Oilfields dengan harga S$3,05 (Rp 17.030) per saham. Nilai tersebut mencerminkan premium sebesar 9,4% dari rata-rata harga saham selama 30 hari sebelum disuspensi pada 5 April. Seperti dikutip Dow Jones Newswire, Pacific Oilfields berencana memperluas bisnisnya di sektor perawatan anjungan minyak di Indonesia dan kawasan Asean. Menurut Kris Wiluan, bisnis KS Energy sejalan dengan usaha Pacific Oilfield. “KS Energy akan memberi akses ke pasar Cina,” kata Kris seperti dikutip Channel News Asia. Sebaliknya, KS Energy bisa menggunakan kekuatan Pacific Oilfield di Indonesia sebagai penetrasi industri minyak dan gas di negara tersebut. Kris Wiluan, selain menjabat sebagai presiden direktur Citra Tubindo, juga menjadi pengelola Nongsa Point Marina yang merupakan pintu masuk kapal pesiar asing di Batam.  Kris juga menjadi presdir PT Kabil Indonusa Estate (KIE). PT KIE adalah perusahaan patungan antara Citramas Group dan the Netherlands Development Finance Co Ltd (FMO). Pengembangan KIE sebagian didanai oleh anak perusahaan Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC), ING, Internationale Nederlanden Bank dan PT Bank Finconesia. Sedangkan Citramas Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang peralatan dan layanan lapangan minyak, pariwisata, logistik dan layanan transportasi, properti/real estat, telekomunikasi, konstruksi dan layanan engineering, layanan komputer.  Sebelum mengakuisisi KS Energy, beberapa waktu lalu Kris Wiluan mengakuisisi 29,2% saham Sin Soon Huat senilai S$ 22 juta atau sekitar Rp 123 miliar dari delapan anggota Lim bersaudara di Singapura. Level itu mencerminkan premium 3,6% dari harga penutupan saham pada saat itu. 

Akuisisi Infinite 

Sedangkan pada 6 Desember 2005, salah satu perusahaan Kris, Kinema Entertainment yang merupakan kendaraan investasi media Citramas Group, mengakuisisi saham mayoritas Infinite Frameworks Pte Ltd (Infinite Frameworks). Kris Wiluan dan Kinema Entertainment mengumumkan bahwa mereka telah menggunakan opsi untuk meningkatkan kepemilikan di Infinite Frameworks dari 45% menjadi 96%. Menurut Kris, akuisisi tersebut dilakukan pada saat yang tepat, ketika Pemerintah Singapura menyatakan bahwa industri kreatif sebagai sektor yang tengah berkembang. “Dengan mengambil sisa saham itu, kami telah menyelesaikan akuisisi atas Infinite Frameworks dan akan kembali meneruskan keberhasilan perusahaan ini di area post-production dan animasi,” kata Kris. Mike Wiluan, managing director Infinite Frameworks mengatakan, ada permintaan dunia yang besar atas layanan penyiaran, post-production dan animasi. “Bahkan permintaan atas content lebih besar, terutama di kawasan Asia,” kata Mike. Akuisisi atas Infinite Frameworks merupakan investasi strategis karena perusahaan ini akan bertindak sebagai kendaraan dan basis bagi pertumbuhan bisnis layanan post-production terutama di area high-definition (HD) dan content animasi.  Infinite Frameworks menandatangani kesepakatan pada Oktober 2005 dengan Media Development Authority dan Mediacorp Raintree Pictures untuk memproduksi film animasi tiga dimensi (3D) berjudul Sing to the Dawn yang menelan dana S$ 5,5 juta (Rp 30,8 miliar).  

Payung Bisnis 

Dalam keterangannya kepada pers di Singapura belum lama ini, Kris Wiluan mengatakan, KS Energy akan dijadikan payung binis migas dalam usahanya merambah pasar global. Di PT Citra Tubindo, Kris memiliki 0,55% saham perseroan atau setara 442.000 lembar saham. PT Citra Tubindo juga menguasai 27,66% saham PT Citra Agramasinti Nusantara. Di perusahaan itu, Kris tercatat sebagai pendiri perseroan dan kini menjabat sebagai direktur utama. Berdiri tahun 1983, Citra Tubindo adalah salah satu produser baja dan produk terkait untuk industri minyak dan gas. Sebagian hasil produksi PT Citra Tubindo diekspor ke sejumlah negara. Pada 2005, perseroan meraih pendapatan usaha sebesar Rp 1,197 triliun, naik 80% dari Rp 665,9 miliar pada 2004. Sedangkan laba bersihnya tercatat Rp 73,5 miliar, naik 436% dari Rp 13,7 miliar pada 2004. Untuk memperkuat bisnis, Citra Tubindo juga mendirikan beberapa perusahaan patungan.Tahun 1998, Citra mendirikan PT Dwi Sumber Arca Waja yang berlokasi di Batam dan memproduksi pipa untuk industri konstruksi lepas pantai. Selain itu, tahun 1997 perseroan mendirikan Vietubes di Vietnam dengan mengandeng Valtubes SA, Sumitomo Metal Industries dan PetroVietnam.  Di Labuan, Malaysia, Citra Tubindo membentuk usaha patungan dengan pengusaha setempat. Ekspansi serupa juga dilakukan di Thailand dengan merangkul Sembawang Offshore Petroleum Services. Usaha patungan lainnya adalah PT H-Tech dengan menggandeng Grant Prideco dari AS. Perseroan memproduksi pipa baja horizontal dengan kualitas tinggi dan sebagian dijual ke Grant Prideco. Selain itu, Kris juga mengembangkan bisnis properti dan kawasan industri di Batam melalui PT Kabil Indonusa Estate. (cd/hg/c77/kp)

Kris Wiluan Kuasai Tiga Perusahan Publik Singapura

01/12/2006 02:11:10 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Pengusaha Indonesia, pemilik PT Citra Tubindo Tbk Kris Taenar Wiluan kini telah menguasai tiga perusahaan publik Singapura melalui skenario akuisisi. Aksi korporasi terbaru Kris yaitu menjual saham Sin Soon Huat Ltd senilai US$ 41,2 juta melalui perusahaan investasi Pacific Oilfield Equipment Investment Corp.

Menurut pengumuman Bursa Efek Singapura, Pacific Oilfield telah menjual saham perusahaan yang tercatat di bursa Singapura Sin Soon Huat Ltd (SSH) ke pihak Aqua-Terra Supply Co. Limited.Nilai penjualan untuk 106.750.000 saham SSH mencapai US$ 41,2 juta atau setara dengan Rp 238,9 miliar. Sebelum menjual saham SSH, Kris melalui KS Energy telah mengakuisisi 20% lebih saham Aqua-Terra.
“Pacific Oilfield Equipment Investment Corp telah memiliki 20% saham KS Energy dan perseroan dikuasai sepenuhnya oleh Kris Taenar Wiluan,” tulis manajemen SSH dalam laporannya ke pihak otoritas bursa Singapura (6/11).Penjualan saham SSH berhasil memberikan keuntungan kotor bagi pemilik Citramas Group itu sebesar US$ 19,1 juta atau Rp 110,7 miliar. Menurut catatan bursa Singapura, Kris masuk menjadi pemegang 20,1% saham SSH pada 14 September 2005.Ketika itu, ia membeli saham SSH dari keluarga Lim pada harga S$ 0,14 per saham. Kemudian, pada awal November 2006 menjual kembali pada harga S$ 0,27 per saham.Selain milik Pacific Oildfileld, keluarga Wiluan juga menjual saham SSH yang dimiliki oleh Advanti International Pte Ltd. Perusahaan ini dimiliki oleh saudari Kris yaitu Hedy Kurniawan. Kini, Hedy juga menjabat sebagai salah satu direktur Citra Tubindo. Sedangkan Kris sejak 3 November 2006 telah diangkat menjadi chairman dan chief executive officer SSH dan Aqua-Terra.

Tiga Perusahaan Publik SingapuraMenurut data otoritas bursa Singapura, saat ini Kris Taenar Wiluan tercatat telah memiliki tiga perusahaan publik di Singapura. Perusahaan tersebut adalah KS Energy Services Limited, Aqua-Terra Supply Co. Limited dan Sin Soon Huat Ltd. Walau telah menjual saham SSH ke pihak Aqua Terra, Sin Soon Huat masih dimiliki Kris secara tidak langsung melalui KS Energy.Begitu pula Aqua-Terra dimiliki pemilik Citra Tubindo ini melalui KS Energy. Jumlah saham yang dimiliki Kris secara tidak langsung di SSH dan Aqua-Terra masing 51.516.000 dan 85.500.000 saham biasa. Sementara di KS Energy, Kris memiliki 20% saham perseroan secara langsung dan sekaligus menjadi pemegang saham mayoritas. Selain melalui Pacific Oilfield, Kris juga memiliki saham KS Energy melalui keluarganya, sehingga total kepemilikan Kris baik langsung maupun tidak langsung di KS Energy mencapai 29,9%.

Sejumlah analis di bursa Singapura menjelaskan, langkah pengusaha asal Indonesia menjual saham SSH merupakan keputusan yang tepat. Menurut analisa OCBC, penjualan saham SSH milik pengusaha Indonesia merupakan aksi korporasi terbesar di bursa Singapura. “Langkah tersebut merupakan langkah yang tepat karena Kris sudah memiliki saham secara tidak langsung atas SSH melalui KS Energy,” tandasnya.Saham KS Energy dibeli Kris melalui Pacific Oilfields pada April 2006. Manajemen KS Energy ketika itu menyatakan, pemegang saham Kim Seng Holdings Pte Ltd menjual saham perusahaan yang bergerak dalam bisnis perawatan anjungan minyak itu ke Pacific Oilfields dengan harga S$3,05 (Rp 17.030) per saham. Nilai tersebut mencerminkan premium sebesar 9,4% dari rata-rata harga saham selama 30 hari sebelum disuspensi pada 5 April.Kris Wiluan menjelaskan, dengan akuisisi ini, Pacific Oilfields berencana memperluas bisnisnya di sektor perawatan anjungan minyak di Indonesia dan kawasan Asean. Menurut Kris, bisnis KS Energy sejalan dengan usaha Pacific Oilfield.

“KS Energy akan memberi akses ke pasar Cina,” kata Kris seperti dikutip Channel News Asia. Sebaliknya, KS Energy bisa menggunakan kekuatan Pacific Oilfield di Indonesia sebagai penetrasi industri minyak dan gas di negara tersebut.

Bangun Perusahaan Patungan

Selain mengakuisisi sejumlah perusahaan, kris Taenar juga membangun kerja sama dengan pihak KS Energy dengan membentuk usaha patungan. Pada 6 November lalu, kepada otoritas bursa Singapura, manajemen KS Energy mengungkapkan, untuk meningkatkan kinerja, KS Energy dan Pacific Exploration milik Kris akan membentuk Blue Ocean Explorer Ltd. Perusahaan ini nantinya akan bergerak di bidang pengeboran minyak.Selain membentuk Blue Ocean, KS Energy pun pada 28 Agustus lalu telah sepakat membentuk joint venture dengan PT Citra Tubindo Tbk. Usaha patungan tersebut terkait beberapa usaha rig di beberapa wilayah Indonesia.Belum lama ini, Citra Tubindo memenangkan tender pengadaan material untuk National Iranian Oil Company. Tender proyek bernilai US$ 31,3 juta ini diadakan oleh Kala Naft, Iran. Frankie Setiadi, Direktur Citra Tubindo mengatakan, tender itu berupa order pesanan Oil Country Tubular Goods (OCTG) dari Kala Naft DC-1 di Iran dan order Drill Pipes dari Kala Naft di London.

Menurutnya, nilai tender tersebut terdiri dari Kala Naft di Iran sebesar US$ 27,324 juta untuk OCTG dan sebesar US$4,007 juta untuk keperluan National Iranian Drilling Company.

“Sebagian dari order OCTG tersebut senilai US$ 10 juta akan diproses di pabrik Luleh Gostar Esfarayen Seamless Pipe Company (LGE) di Iran dan perseroan akan melakukan atas pengerjaan order tersebut di pabrik LGE,” katanya. Frankie menambahkan, order ini akan diserahkan pada tahun 2006.Sementara itu terkait persoalan investasi di Indonesia, kepada Investor Daily beberapa waktu lalu, Kris menjelaskan, saat ini Investor sangat mengharapkan kepastian, terutama soal ketenagakerjaan, kepabeanan, pertanahan, dan penerapan pajak yang bijaksana. “Penerapan pajak, bukan berarti pengusaha tidak mau membayar pajak. Tapi, penerapannya harus kompetitif dibanding negara lain,” jelasnya.Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini investor ramai membicarakan soal penetapan pajak berganda. “Pengusaha yang memproduksi barang di sini seharusnya tidak dikenakan pajak berganda agar investor dari Singapura mau pindah ke Indonesia. Kami mau diperlakukan sama, dan saya rasa pemerintah sudah mengerti mengenai itu,” tambahnya. (mc)

Kris Wiluan Akuisisi Atlantic Oil

29/05/2007 03:19:17 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Kris Taenar Wiluan, pemilik PT Citra Tubindo Tbk, akan mengakuisisi sebagian saham Atlantic Oilfield Services Ltd yang tercatat di bursa Oslo melalui Sphinx Frontier Ltd. Sebagai pemegang saham mayoritas, KS Energy telah menyiapkan dana akuisisi sebesar Sin$ 122 juta atau sekitar Rp 704 miliar.

Dalam penjelasannya kepada otoritas bursa Singapura, Senin (28/5), Kris juga akan mengakuisisi sejumlah aset yang terkait Atlantic dan beberapa kontrak pengeboran minyak di sejumlah wilayah. Kris akan menggunakan dana kas internal dan pinjaman bank untuk akuisisi itu. ”Aksi ini akan berdampak pada kinerja KS Energy pada tahun buku 2007,” jelas Kris.
Dirut PT Citra Tubindo itu menjelaskan beberapa alasan aksi korporasi tersebut, antara lain sebagai wujud ekspansi paralel dengan bisnis KS Energy. Dari sisi geografis, akuisisi Alantic akan memudahkan KS Energy menjangkau kawasan Eropa untuk ekpansi usaha, khususnya kawasan Belanda, Denmark, Norwegia, Yunani, Mesir, dan Asia tengah.Pada 2006, majalah Forbes memasukkan Kris Wiluan pada urutan ke-31 dalam jajaran 40 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan sekitar US$ 140 juta. Dia mengawali bisnisnya sebagai pemasok pipa untuk konstruksi di Singapura dan sekitar Batam pada 1970. Selanjutnya, dia mengembangkan bisnis pembuat peralatan bagi perusahaa minyak dan gas. Saat ini, dia juga mengeluti bisnis pariwisata, transportasi, dan properti. Menurut Kris, pembelian saham Atlantic secara langsung akan berpangaruh pada penguasaan pengeboran minyak di kawasan Norwegia dan Skandinavia lainnya. ”Ini akan memudahkan perseroan untuk meningkatkan pertumbuhan keuntungan pada tahun mendatang,” tandas dia.Kepada otoritas bursa Oslo, manajemen Atlantic Oilfield menjelaskan, pemegang saham Atlantic menawar saham Atlantic seharga US$ 1.836 per saham untuk membeli 49,3 juta saham. Dengan demikian, Kris Wulian harus menyiapkan dana sekitar US$ 121 juta. “Sejauh ini, pihak Atlantic baru menerima penawaran dan belum ada kesepakatan,” jelasnya.Atlantic Oilfield Services Ltd merupakan perusahaan minyak dan gas (migas) yang tercatat di OTC Stock Exchange, Oslo. Perusahaan ini tercatat di bursa Oslo pada Maret 2006. Sebelum menjadi Atlantic Oilfield, perseroan bernama Atlantic marine Services. Proyek migas perseroan tersebar di beberapa wilayah seperti Qatar yang menguasi rig Amina. Di Denmark, perseroan menjalankan proyek pengeboran Atlantic Esbjerg. Pada Maret 2006, perseroan mengakuisisi rig Pride Rotterdam.  

Kuasai Bisnis Migas

Berdasarkan data bursa Singapura, Kris Taenar Wiluan telah menjadi pemegang saham mayoritas di KS Energy. Ia masuk ke KS Energy pada April 2006 melalui Pacific One Energy Limited dengan menguasai 21,17% saham. Kris masih memiliki saham KS melalui beberapa nominee seperti DBS Nominees Pte Ltd dan Advanti (Int’l)) Pte Ltd yang masing-masing memiliki 12,45% dan 5,92%. KS Energy merupakan perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Menurut laporan keuangan 2006, aset KS Energy mencapai US$ 179 juta. Laba bersih tercatat US$ 50,7 juta. Kris Wiluan dipilih menjadi CEO KS Energy pada 2005.Selain memiliki KS Energy, Kris menjadi pemegang saham mayoritas di SSH Corporation Ltd melalui Pacific Oilfield Equipment Investment Corp dengan memiliki 28,36% saham. SSH Merupakan produsen alat berat untuk pertambangan.Melalui vehicle yang sama, Kris juga memiliki 54,81% saham Aqua-Terra Supply Co.Ltd. Di perusahaan ini, Kris menjadi pemegang saham bersama saudarinya, Hedy Kurniawan. Dari Bursa Efek Jakarta, Kris menjadi pemegang saham mayoritas di PT Citra Tubindo Tbk melalui PT Citra Agramasinti Nusantara. Saat ini aset Citra Tubindo mencapai Rp 2 triliun.

Sejarah Bisnis

Setelah lulus pendidikan pada 19971, Kris Taenar Wiluan bekerja magang sebagai programmer computer di  Keen and Nettlefold (GKN Group). Pada 1973, dia kembali ke Singapura dan bekerja di United Motor Works (UMW) sebagai general manager yang mendistribusikan mesin-mesin dan alat berat di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.Pada 1977, dia mulai mendirikan perusahaan sendiri sebagai pemasok dan kontraktor logistik bagi perusahaan multinasional di sector migas yang beroperasi di Indonesia. Keluarga Kris merupakan distributor suku cadang otomotif, bahan kimia dan makanan yang telah memulai usaha sejak 1950-an yang dirintis ayahnya, Henk Wiluan.Pada 1979, Kris kembali membangun bisnis ayahnya menjadi induk perusahaan di bawah bendera PT Citra Bonang yang mempekerjakan 150 karyawan. Pada 1983, bisnis pribadinya yang memproduksi peralatan ladang minyak dikonsolidasikan kedalam PT Citra Tubindo. Saat ini, perusahaan yang bergerak di sector perminyakan itu telah tercatat di BEJ.Saat ini, Citramas Group yang menjadi perusahaan induk PT Citra Tubindo dan 35 anak perusahaan memiliki lebih dari 2.000 karyawan yang dikendalikan dari Batam. Mereka bergerak di bidang industri peralatan lapangan migas, jasa pelayaran, logistik, dan pengeboran, pengembangan infrastruktur pelabuhan, terminal ferry, kwawasan industri, dan perhotelan.Pada 29 Agustus 2006, Kris Wiluan mengumumkan langkah bisnisnya yang baru, yakni bisnis pemeliharaan dan pergantian suku cadang rig atau anjung pengeboran migas, baik di darat maupun laut. Wiluan melihat bisnis pembuatan rig minyak dan gas saat ini sedang booming. Perusahaan yang membuat rig kewalahan menerima pesanan. Karena ini, pemesan rig biasanya harus antre menunggu giliran.Untuk membidik pasar pemeliharaan dan pergantian suku cadang rig minyak dan gas ini, Kris Wiluan melakukan konsolidasi besar besaran atas tiga perusahaannya di Singapura untuk digabungkan dengan perusahaannya di Indonesia.(mc)

Kris Wiluan Ekspansi ke Timteng

16/08/2007 01:58:45 WIB
SINGAPURA, Investor Daily
Konglomerat asal Indonesia, Kris Taenar Wiluan, melalui perusahaannya yang berbasis di Singapura, KS Energy Service Limited berinvestasi US$ 148 juta atau sekitar Rp 1,39 triliun, mengembangkan sayap bisnisnya di Timur tengah.

Chairman
dan CEO KS Energy Kris Wiliuan mengungkapkan, dana tersebut sebagian besar untuk berinvestasi membangun anjungan minyak dan gas (rig) di Uni Emirat Arab (UEA). “Kami ingin menjadi pemain penyewaan rig dan menawarkan jasa peralatan migas di sana, itu alasan kami ekspansi di kawasan Teluk itu,” ujar Kris dalam laporannya kepada Bursa Singapura, belum lama ini. Menurut Kris, untuk merealisasikan ekspansi bisnisnya itu, KS membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV). KS akan memiliki saham mayoritas 50% di JV itu, perusahaan asal Arab Saudi, Amwal Al Khaleej Investment memiliki saham 40%, dan Maritime Industrial Services (MIS) yang bermarkas di UEA menguasai saham 10%. MIS merupakan perusahaan perkapalan yang memperkerjakankaryawan 3.500 orang. KS merupakan perusahaan yang menawarkan penyediaan jasa terpadu untuk kegiatan eksplorasi dan migas multinasional, serta industri petrokimia yang berdiri 6 Agustus 1999.  Saat ini, perseroan telah mempunyai kantor cabang di beberapa Negara, di Tiongkok, Vietnam, Thailand, Qatar, UEA, AS, Indonesia, dan Malaysia. Kris menjelaskan, perusahaan patungan itu akan menawarkan penyewaan rig dan peralatan migas lainnya kepada beberapa perusahaan migas, termasuk BUMN migas. Dia optimistis dengan langkah bisnisnya itu, karena pihaknya menerapkan kontrak sewa rig minimal enam bulan.  ”Dengan tingginya harga minyak, dan pasokanperalatan migas yang terbatas, kami bisa memasoknya,” katanya. 

Menurut Kris, JV merupakan perusahaan pembuatan rig terbesar KS. Lebih penting lagi, KS saat ini juga telah beraliansi dengan pemasok peralatan migas Aqua Terra Supply dan SSH Corp pada tahun ini, yang sudah dikenal mampu membangun rig untuk wilayah lautan (offshore) untuk perusahaan migas besar di Teluk, seperti Saudi Aramco. KS telah memulai konstruksi rig  Friede & Goldman Super M2 jack-up yang dapat mengebor kedalaman hingga 300 kaki, mulai pertengahan bulan ini. Konstruksi dilakukan di pabrik dan fasilitas perkapalan MIS di Sharjah, dan diharapkan selesai dalam waktu 30 bulan, atau paling lambat 2009. Pendanaan rig sebesar US$ 74 juta akan dibiayai dari internal KS dan sebagian pinjaman. Diskusi pendanaan perseroan dijamin tidak akan menghalangi kontribusi partner dari Arab Saudi dan MIS. KS tertarik ekspansi ke Timur Tengah, karena pasar rig dan peralatan migas di sana sedang bagus, seiring naiknya harga minyak di kisaran US$ 70/barel. 

Saat ini, Timur Tengah dan Teluk Meksiko merupakan dua pasar rig yang paling dominan,  karena mencakup hampir 50%  pasar rig dunia. Di Timur Tengah dan India, permintaan rig juga terus naik dari 89 rig pada 2004, menjadi 103 rig pada 2006. Tahun 2007, permintaan rig diperkirakan meningkat menjadi 128. Saat ini, Timur Tengah dan Teluk Meksiko merupakan dua pasar rig yang paling dominan, karena mencakup hampir 50% dari pasar peralatan migas dunia. Di Timur Tengah dan India, permintaan rig terus naik dari 89 pada 2004, menjadi 103 pada 2006. Pada 2007, permintaan rig diperkirakan meningkat lagi menjadi 128. Ammar Alkhudairy, direktur pengelola Amwal Al Khaleej, mengatakan, pihaknya mempunyai bekal pengetahuan, jaringan, dan kekuatan sumber dana yang besar untuk mendukung rencana itu. “Kami punya semua itu,” katanya. Direktur Pengelola MIS Jerry Smith menambahkan, pihaknya mempunyai instrumen yang mendukung untuk pembentukan JV dengan KS.  “Ya, kami punya untuk itu,” imbuhnya. (lim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: