Aburizal Bakrie Terkaya di Indonesia Versi Forbes Asia

12.jpg

Keluarga Menko Kesra Aburizal Bakrie dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes Asia, menggusur Sukanto Tanoto.Tahun ini,kekayaan Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie mencapai US$ 5,4 miliar (Rp 50,2 triliun), naik 4,5 kali lipat dibandingkan 2006 yang sebesar US$ 1,2 miliar (Rp 11,16 triliun).

Menko Kesra Aburizal Bakrie dan keluarganya, menduduki puncak daftar orang terkaya Indonesia 2007, versi Majalah Forbes Asia, dengan kekayaan bersih meningkat pesat menjadi US$ 5,4 miliar tahun ini dibanding US$ 1,2 miliar pada 2006, yang saat itu menduduki nomor enam.

Tahun ini, kekayaan Bakrie melompati lima konglomerat lain, seperti Sukanto Tanoto (Raja Garuda Mas), Putera Sampoerna (HM Sampoerna), Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas), Rachman Halim (Gudang Garam), dan Budi Hartono (Djarum). Pada 2006, Sukanto Tanoto menempati posisi puncak, sedangkan Ical berada di posisi ke-6. Tahun ini, Sukanto Tanoto tergusur ke posisi kedua dengan kekayaan US$ 4,7 miliar (Rp 43,7 triliun).

Saat ini, Indonesia memiliki 11 miliarder dengan total kekayaan US$ 29,16 miliar (Rp 271,1 triliun). Kekayaan para miliarder Indonesia itu terdongkrak oleh kenaikan harga produk pertambangan, minyak kelapa sawit, dan kertas. Tahun lalu, Forbes mencatat hanya tujuh miliarder dari negeri ini.

Sementara itu, total kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia mendekati US$ 40 miliar (Rp 372 triliun). Tahun ini, Bambang Trihatmodjo, putra kedua mantan Presiden Soeharto, masuk peringkat ke-33 dengan kekayaan US$ 200 juta (Rp 1,86 triliun).

Menurut Forbes, kontribusi terbesar kekayaan keluarga Bakrie berasal dari Bumi Resources, anak perusahaan Bakrie yang menggeluti sektor batubara. Dalam setahun terakhir, saham Bumi Resources melonjak tajam. “Keluarga Bakrie memiliki usaha di infrastuktur, properti dan telekomunikasi, namun yang paling memberikan kontribusi pada kekayaannya adalah kenaikan saham batubara sampai 600%,” tulis Forbes.

Kinerja Saham Cemerlang

Sepanjang 2007, harga saham kelompok Bakrie mencatat kenaikan signifikan. Hal itu tercermin pada kinerja saham Bakrie Telekomunikasi (BTEL), Bakrie & Brothers (BNBR), Bakrie Development (ELTY), Bumi Resource (BUMI), dan Bakrie Sumatra Plantation (UNSP).

Tahun ini, perusahaan-perusahaan Bakrie agresif berekspansi. Alhasil, perdagangan saham-saham grup ini pun menjadi semakin marak di bursa. Geliat saham Bakrie mulai terlihat sejak awal 2007. Bahkan, ketika sentimen negatif melanda Bursa Efek Jakarta (BEJ, sebelum berubah menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten di bawah bendera Bakrie sangat aktif diperdagangkan.

Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata sependapat, keberhasilan Aburizal Bakrie memuncaki daftar orang terkaya di Indonesia terkait kinerja perusahaan yang dimilikinya. “Tentunya dinilai dari sisi aset yang besar, wajar kalau Bakrie menjadi orang kaya,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, (Kamis, 13/12).

Dia mengakui, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) cukup menjanjikan kinerjanya. Meski masih terbilang baru dalam bisnis telekomunikasi, emiten ini sudah menjadi perusahaan telekomunikasi yang fenomenal. Bumi Resources juga berprospek cerah. PT Bakrieland memiliki banyak proyek. Bakrie Sumatra Plantations meski termasuk perusahaan kecil, prospek produksi minyak sawit mentahnya cukup menjanjikan.

Analis PT Paramitra Alfa Sekuritas Andrew Sihar menilai, melonjaknya harga saham Grup Bakrie di BEI seiring banyaknya aksi korporasi yang dilakukan.  Prospek kinerja perseroan itu bisa dikategorikan menjadi katalis berhasilnya Aburizal Bakrie masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes Asia. “Jadi masuk akal ya, apalagi saat ini Bakrie sedang memunyai power,” ujar dia.

Secara fundamental, menurut Andrew, saham yang dimiliki Bakrie berkinerja bagus, selain adanya power dari Bakrie. Kedua hal itu merupakan kunci utama keberhasilan Bakrie masuk daftar orang terkaya.

Sebab, sektor yang digeluti emiten di bawah bendera Bakrie memang sedang bagus. Kenaikan harga BUMI, misalnya, terkait naiknya harga minyak mentah dunia yang membuat kebutuhan batubara cenderung meningkat. Harga CPO yang meningkat ikut mendongkrak kinerja UNSP di sector perkebunan. “BTEL, mengalami pertumbuhan signifikan pada 2007, bahkan akan berlanjut terus di 2008,” jelas Andrew.

Berdasarkan data stockwatch, harga ELTY pada awal tahun ini (2 Januari 2007) masih Rp 149, tapi pada saat ini sudah mencapai Rp 650. BTEL per 2 Januari 2007 Rp 245, saat ini tercatat Rp 435. UNSP awal 2007 Rp 859, saat ini Rp 2.200. BUMI hanya Rp 910 pada 2 Januari 2007, namun harganya sudah mencapai Rp 5.900.Melihat kondisi itu, para investor mengincar saham-saham Bakrie yang sebagian besar berada di lapis dua tersebut. Apalagi, saham-saham itu juga lumayan likuid. Namun, di antara para pemburu saham-saham Bakrie itu, tak sedikit pula spekulan alias tukang goreng. Ada beberapa alasan mengapa saham-saham Bakrie jadi mainan menarik bagi spekulan. Para pemain menilai harga saham Bakrie masih terbilang murah. Selain itu, ada banyak berita sebagai bahan bakar gorengan.

Bakrieland Development (ELTY) termasuk saham Bakrie unggulan. Kinerjanya yang bagus pada semester satu 2007 mendongkrak ekspektasi pasar. Emiten properti ini juga gencar menggarap proyek baru, seperti Rasuna Epicentrum dan Bogor Nirwana Residence. ELTY belakangan ini juga agresif menggarap pasar di luar Jakarta, seperti Nirwana Hills Residence di Malang. Di Bali, ELTY lagi gencar menggarap proyek kondotel dan villa di Bali. Sebut saja kondotel The Legian Nirwana Bali yang kini sudah terjual 50%. ELTY pun tengah bersiap membangun Ubud Nirwana Villas, menyusul The Seminyak Nirwana Suites dan Sanur Nirwana Villas. ELTY juga punya proyek di Balikpapan, yakni Balikpapan Nirwana Hills.

Bumi Resources (BUMI) tetap menjanjikan seiring membaiknya harga batubara. BUMI juga  bersiap ekspansi lagi. Mereka berada di belakang Konsorsium Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Sumbawa Barat yang akan membeli 3% saham Newmont Nusa Tenggara.Tahun ini, BUMI bisa menurunkan ongkos produksi dari US$ 28,3 per ton pada akhir 2006 menjadi US$ 23,1 per ton pada semester I 2007. 

Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) sempat terpukul cukup telak pada Agustus 2007. Hal itu akibat emiten perkebunan ini mengubah harga rights issue keduanya, dari Rp 1.600 menjadi Rp 1.100 per saham. Semula, UNSP berniat menerbitkan 999 juta saham baru dengan rasio 7:3. Dengan perubahan itu, otomatis rasio menjadi 8:5.Emiten ini akan mengunakan 67,06% dana dari penjualan saham baru itu untuk mengakuisisi seluruh saham PT Grahadura Leidongprima. Sisanya untuk tambahan modal kerja. Dengan aksi ini, total kapasitas pabrik sawit UNSP naik jadi 255 ton per jam. 

Bakrie Telecom (BTEL) cukup cerah meski persaingan bisnis telekomunikasi cukup ketat. Untuk ekspansi tahun ini, BTEL menganggarkan belanja modal sebesar US$ 220 juta. BTEL juga telah mencairkan fasilitas pinjaman sindikasi dari Credit Suisse sebesar US$ 130 juta dan fasilitas pembiayaan vendor dari Huawei, sebesar US$ 70 juta. BTEL akan membangun 800 base transceiver station (BTS) baru. Mereka bertekad untuk menggenjot jumlah pelanggan dari 1,5 juta pada 2006 menjadi 3,6 juta pada akhir tahun ini. BTEL optimistis bisa mencapai target itu.

Bakrie & Brothers (BNBR) merupakan induk perusahaan Bakrie Telecom dan Bakrie Sumatera Plantations. Namun, kinerja BNBR pun ikut terkerek kinerja UNSP dan ELTY. Bisnis inti BNBR, yakni bisnis infrastruktur, masih berpeluang. Belum lama ini, BNBR mendapatkan pinjaman sebesar US$ 69 juta dari Bank of New York.BNBR juga bakal menggarap dua megaproyek, yakni pipa gas Kalimantan-Jawa dan pipa gas Trans-Peninsula di Selat Malaka. Untuk proyek Trans-Peninsula, BNBR telah memenangi tender sebagai pemasok pipa selama tujuh tahun. Namun, BNBR belakangan juga berniat masuk ke dalam pemilikan proyek itu. Sumber Investor Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: