84 SAHAM RAIH GAIN 100%-3.940%, IHSG Peringkat 3 Asia Pasifik

Oleh: Hari Gunarto dan Jauhari Mahardika

JAKARTA, Investor Daily
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup positif 6,12 poin ke level 2.745,8 atau mencatat gain 52,1% sepanjang 2007. Performa itu menempatkan IHSG BEI berada di peringkat ketiga di bursa utama Asia Pasifik.

IHSG yang cenderung negatif sepanjang sesi siang akhirnya ‘bermanuver’ pada menit-menit jelang penutupan, di tengah tekanan mayoritas indeks bursa regional yang bergerak negatif.
 Prestasi IHSG berada di bawah dua bursa Tiongkok, yakni Shenzen yang meraih gain 165% dan bursa Shanghai dengan gain 107,4%. Kinerja BEI itu sedikit di bawah return sepanjang 2006 yang mencapai 55,6%. IHSG pernah tembus 2.810,962 pada 11 Desember 2007.

Penutupan perdagangan di BEI kemarin dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, didampingi Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany dan Dirut BEI Erry Firmansyah. Penutupan bursa diwarnai peniupan terompet secara serentak oleh jajaran direksi BEI, pejabat Bapepam-LK, pejabat Self Regulatory Organisation (SRO), perwakilan emiten, dan para analis.  Sementara itu, di kawasan regional, indeks Hang Seng di bursa Hong Kong hanya mencatat gain 37,1%, bursa Korsel (Kospi) sebesar 32,2%, bursa Malaysia (KLSE) 32%, dan Thailand 26%.         
Prestasi individual saham di BEI cukup fantastis. Setidaknya terdapat 84 saham yang memberikan gain di atas 100% hingga yang tertinggi 3.940% sepanjang 2007. Dari jumlah itu, 25 saham memberikan hasil di atas 300%.
         
Khusus kelompok saham likuid yang tergabung dalam LQ45, terdapat 22 saham yang memberikan gain di atas 50%. Top gainers tersebut umumnya didominasi oleh saham-saham pertambangan, energi, dan agribisnis. Saham perbankan LQ45 memberikan gain antara 17% hingga 43%.
         
Gain tertinggi direguk PT Bumi Resources Tbk yang mereguk untung hingga 567%, disusul PT Timah Tbk 548,6%, PT Barito Pacific 337,5%, PT Tambang Batubara Tbk 240,4%, dan PT Bakrieland Tbk 217,9%.
         
Enam saham kelompok Bakrie masuk dalam top 20 dalam perolehan gain. Selain Bumi Resources dan Bakrie Land, tercatat PT Energi Mega Persada memberikan gain 186,5%, PT Bakrie Sumatra Plantations 134,5%, Bakrie & Brothers 87,1%, serta Bakrie Telecom naik 71,4%.

         
Dari sisi sektoral, indeks sektor pertambangan tumbuh paling tinggi, mencapai 250%. Kemudian disusul indeks saham sektor pertanian yang naik 126% dan saham properti sebesar 105%.

Kapitalisasi Rp 1.982 Triliun

Sri Mulyani menegaskan, pencapaian pasar modal tahun ini sangat bagus. Hal itu mencerminkan pertumbuhan fundamental perekonomian Indonesia serta tingginya kepercayaan investor asing maupun lokal. Dia berharap, pasar modal kelak tidak hanya akan memberi keuntungan bagi diri sendiri tetapi juga bagi sektor riil. “Saya berharap indeks di BEI dapat memecahkan rekor terus menerus,” kata Sri Mulyani.  Menurut Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, nilai kapitalisasi pasar BEI pada akhir 2007 mencapai Rp 1.982,7 triliun atau meningkat 58,73% dibanding2006 sebesar Rp 1.249,1 triliun. Pertumbuhan itu meningkatkan kontribusi pasar modal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 37,42% menjadi 67%. “Kami optimistis, pasar modal tahun depan menyumbang 75% dari PDB,” kata dia. Dirut BEI Erry Firmansyah menambahkan, meski pertumbuhan indeks BEI menempati posisi ketiga di Asia Pasifik, kontribusi kapitalisasi pasar BEI terhadap PDB masih tertinggal dibandingkan bursa negara tetangga yang mencapai 150%.  Total nilai transaksi saham di BEI tahun ini mencapai Rp 1.042,9 triliun atau meningkat 133,99% dibandingkan 2006 sebesar Rp 445,71 triliun. Rata-rata transaksi harian juga naik signifikan, yaitu 131,52%, dari Rp 1,84 triliun menjadi Rp 4,26 triliun. “Pada 2008, BEI memproyeksikan transaksi harian saham bisa tumbuh 20%-30%,” tandas Erry. BEI juga optimistis target jumlah investor ritel sebesar 2 juta orang bakal tercapai pada 2008, dari posisi saat ini 750.000-1 juta investor. “Perbandingan antara investor lokal dan asing sudah 50% : 50% dari sebelumnya 70% asing dan 30% lokal,” jelas Erry. Pada tahun ini, nilai emisi saham di BEI mencapai Rp 17,18 triliun atau tumbuh 470,8% dibandingkan 2006 yang hanya Rp 3,01 triliun. Untuk rights issue, nilai emisinya mencapai Rp 29,8 triliun atau meningkat 205,3% dibandingkan 2006 sebesar Rp 9,76 triliun. Tahun ini ada 24 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) atau meningkat 100% dibandingkan 2006 sebanyak 12 perusahaan. “Tahun 2008, kami targetkan IPO saham 30 emiten,” kata Erry. 

Selain saham, BEI mencatat ada 39 perusahaan yang emisi obligasi atau naik 178,57% dibandingkan 14 perusahaan tahun lalu. Total nilai emisi obligasi juga melonjak 173% dari Rp 11,45 triliun menjadi Rp 31,275 triliun.

IPO Penggerak IHSG

Analis PT Dongsuh Kolibindo Securities Ryan Ariadi Suwarno mengatakan, ada sejumlah faktor penggerak indeks selama 2007, terutama adalah IPO saham beberapa perusahaan besar seperti PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) serta dua BUMN, yakni PT Jasa Marga Tbk (JSMR) serta PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).  Faktor lainnya adalah pulihnya konsumsi masyarakat yang ditunjukkan oleh membaiknya penjualan mobil selama 2007. Kinerja emiten berbasis sumber daya alam, terutama batubara serta minyak dan gas juga mendorong kenaikan indeks. Analis PT Investindo Nusantara Sekuritas Arief Budisatria dan analis sekuritas asing Robin Setiawan sependapat, saham komoditas dan energi menjadi motor penggerak IHSG tahun ini.

Faktor positif lainnya adalah banyaknya IPO saham, kondisi makro ekonomi yang positif, ditopang penurunan suku bunga acuan (The Fed dan BI rate), serta inflasi yang terkendali.

Sedangkan untuk tahun depan, Kepala Riset PT BNI Securities Norico Gaman memprediksi indeks berpeluang menembus level 3.200 hingga 3.500. Investor asing masih akan melirik bursa emerging market, karena berpeluang memberikan capital gain lebih besar di banding AS dan Eropa. Arief Budisatria menambahkan, pergerakan indeks tahun depan masih mencermati harga minyak mentah dunia dan tingkat suku bunga yang bakal menjadi pemicu terjadinya inflasi global. “Kalau terjadi inflasi, indeks akan terkoreksi. Sebaliknya, jika harga minyak turun dan subprime mortgage teratasi,  diperkirakan pasar bergairah kembali dengan kisaran 2.200-3.200,” tambah dia. Robin Setiawan memperkirakan, selain faktor global, pada tahun depan bursa domestik sangat dipengaruhi situasi politik domestik menjelang Pemilu 2009.  Kendati demikian, dia optimistis, indeks masih bergerak positif bila semua ekspektasi makro ekonomi dan suhu politik sesuai harapan. Pasalnya, pada tahun depan bakal ada sejumlah perusahaan BUMN maupun swasta yang menggelar IPO. “Berdasarkan historikal, setiap IPO saham akan mendatangkan gain dan menjadi penggerak bagi saham sejenis yang sudah listing,” ujar Robin. ***

    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: