Menjadi Kaya dari Pasar Modal

Februari 16, 2008

Kondisi tersebut berbeda dengan masyarakat di negara maju. Pasar modal di sana berkembang karena masyarakatnya sudah terbiasa merencanakan masa depannya, termasuk masa depan harta bendanya. Kegiatan investasi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat negara maju. Mereka juga sudah terbiasa berinvestasi di pasar modal, sedangkan perusahaan yang memanfaatkan dana pasar modal itu bisa maju, karena adanya suntikan dana masyarakat tersebut. Berdasarkan data yang dirilis Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun lalu, jumlah investor lokal di bursa Malaysia telah mencapai 13% dari populasi penduduknya. Di Jepang sebesar 20%, Singapura 33% dan Amerika Serikat mencapai 32%. Sedangkan jumlah investor lokal di pasar modal Indonesia baru sekitar 0,03% dari populasi penduduk Indonesia yang mencapai 210 juta jiwa. Ini karena mayoritas masyarakat Indonesia masih menyukai berinvestasi di sektor perbankan dan investasi konvensional lainnya.

Padahal, menurut Direktur PT Schrooders Investment Indonesia Michael Tjoajadi, berinvestasi di pasar modal itu bisa membuat kaya, karena masyarakat yang mengeluarkan dananya untuk membeli saham berarti membeli perusahaan. “Bisa menjadi kaya dari pasar modal. Kalau hanya terpaku pada produk perbankan, itu pemiskinan,” katanya saat diskusi Investasi di Pasar Modal, pekan lalu. Pasalnya, suku bunga yang diberikan kepada mereka yang menitipkan dananya di perbankan itu kecil, bahkan di bawah inflasi. Padahal, filosofi investasi yang berhasil itu adalah jika tingkat keuntungannya berada di atas inflasi. Berinvestasi di saham memang memberikan potensi keuntungan yang besar. Potensi keuntungannya berupa capital gain dan dividen. Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli saham dengan harga jualnya. Sedangkan dividen adalah bagian keuntungan yang diterima pemegang saham setiap tahun atas laba yang diperoleh oleh perusahaan.

Di pasar modal, return atau tingkat pengembalian investasi dimungkinkan mencapai 20%-40% per tahun bagi yang tepat memilih saham. Tentu saja, potensi keuntungan yang tinggi itu dibarengi dengan risiko yang besar pula. Tapi, mungkinkah menjadi kaya dari pasar modal? “Mungkin saja. Asalkan investor itu mau belajar. Di pasar modal itu juga terdapat produk-produk yang baik,” tambah analis pasar modal Edwin Sinaga.

Tip berinvestasi saham versi Michael Tjoajadi

· Membeli saat harga turun dan menjual saat harga tinggi

· Membeli saham secara bertahap dan sedikit demi sedikit

· Membeli saham dari perusahaan yang fun-damental baik

· Tidak terpancing oleh fluktuasi harga. Lakukan analisis fun-damental dan informasi

· Sabar, karena investasi di saham membu-tuhkan waktu untuk memetik hasilnya.

Jadi investor, menurut Edwin, jangan malas belajar. Masyarakat yang mau belajar juga tidak rentan tertipu oleh produk investasi yang menjanjikan tingkat keuntungan menggiurkan, seperti kasus Dressel Investment, dan Qisar.

Tipikal produk

Salah satu pembelajaran yang penting diketahui oleh investor adalah mengenal tipikal produk investasi dan potensi risikonya. Pengetahuan terhadap risiko itu bakal membantu memperkecil kemungkinan salah investasi. Dalam berinvestasi, Michael menyarankan investor di pasar modal harus melihat prospek jangka panjang. Alasannya, kalau investor hanya berorientasi jangka pendek, maka yang dilihat hanya kerugiannya saja. Dia mencontohkan, saat indeks harga saham gabungan (IHSG) BEJ tinggi seperti sekarang ini, investor yang membeli saham saat harganya masih rendah, tentu akan memetik keuntungan.

Sebaliknya, investor yang membeli saham saat harganya sudah tinggi akan berpikiran merugi. Padahal, Michael mengingatkan fluktuasi indeks atau harga saham itu hal yang biasa saja. Karena itu, sarannya, investor sebaiknya membeli saham saat harganya masih rendah dan menjual saat harganya tinggi. Nasihat lainnya, investasi membeli saham itu sebaiknya dilakukan bertahap atau sedikit demi sedikit, mengingat kita tidak tahu kapan harga saham itu berada dititik terendah. Kalau membeli saham saat harganya merosot tajam, menurut dia, hal itu berbahaya. Sebab, jelasnya, harga saham yang anjlok itu bisa jadi mengindikasikan sedang ada masalah dalam perusahaan. “Jadi, membeli saham yang harganya sedang turun, dengan membeli saham murah itu beda maknanya,” ujar dia. Karena itu, dia menekankan agar masyarakat membeli saham dari perusahaan yang baik saja.

Caranya, investor harus melihat fundamental perusahaan, menganalisis informasi, sabar dan mengasah ketrampilan investasinya. Pergerakkan IHSG menjadi salah satu informasi yang penting dianalisis oleh investor. IHSG yang berfluktuasi itu, kata Kepala Divisi Riset Ekuiti PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata, hendaknya ditanggapi secara wajar oleh investor. Harga saham unggulan seperti Telkom sekalipun, ungkapnya, bisa terkoreksi. Tapi, investor yang membeli saham kategori unggulan, tambahnya, risiko kerugiannya lebih kecil. Tahun ini, Mega Capital memprediksikan IHSG akan berada di level 2.300-2.500. Pasar saat ini dinilai dalam kondisi yang strategis untuk investasi.

Namun, kesediaan investor untuk belajar sebagaimana dikatakan oleh Michael, Edwin dan Felix itu penting bagi mereka yang ingin berinvestasi di produk pasar modal. Cara belajarnyapun beragam. Saat ini, buku investasi banyak ditemui di pasaran. Melihat film berjudul Boiler Room, Rogue Trader dan Wall Street, juga bisa menjadi sarana untuk memahami trik-trik berinvestasi.  Suli H. Murwani sumber : Bisnis Indonesia   


Menjadi super kaya karena saham

Februari 16, 2008

Orang-orang kaya menjadi super kaya bukan karena menjual barang/jasa tetapi karena dia menjual dan mampu memberikan harapan kepada  pelaku ekonomi. Orang kaya menjadi super kaya karena memilik imereka saham bukan memiliki barang/ jasa yang dijual perusahaan, karena saham mewakili semua yang ada dalam perusahaan tersebut.

Baru-baru ini majalah globe asia mengeluarkan daftar orang kaya di Indonesia dimana beberapa diantaranya merupakan wajah-wajah lama.  Dari sekian nama yang tercantum dalam daftar tersebut kebanyakan merupakan pemegang saham perusahaan terbuka. Apakah ada korelasi antara menjadi pemegang saham perusahaan terbuka dengan kekayaan mereka. Secara langsung maupun tidak langsung jelas mempunyai hubungan kuat. Para orang kaya ini dari tahun-tahun kekayaan terus bertambah seiring dengan kenaikan harga saham perusahaannya. Nilai saham yang mereka miliki baik langsung maupun tidak langsung terus naik seiring kenaikan kinerja perusahaan, kondisi ekonomi makro, corporate action hingga akal-akal menaikan harga saham.

Sebagai contoh Aburizal Bakrie pengusaha yang sekarang menjabat sebagai menko kesra kekayaan menanjak hampir  $5.4 milyar. Harga saham perusahaannya seperti Bakrie& brothers, Bakrie Development, Bakrie Telecom dan yang monumental Bumi Resources naik berlipat-lipat. Sebagai contoh harga Bumi Resorces yang harganya pernah menyentuh Rp 30 per saham pada tahun 2003 saat ini mencapai 7000 per lembar. Masih ada pengusaha Budi Hartono pemilik perusahaan rokok Djarum pemilik tidak langsung Bank BCA, Arifin Panigoro dengan perusahaan pertambangan minyaknya Medco, Chairul Tanjung dengan Group Para, Eka Tjipta Widjaja dengan Group Sinar Mas, Sukanto Tanoto  dengan Asia Agri , Moktar Riadi dengan Group Lippo, Ciputra dengan Group Ciputra, Peter sondakh dengan Group Rajawali, Hary Tanoe dengan Bhakti Investama. Masih banyak pengusaha yang menjadi kaya dan super kaya karena harganya sahamnya meningkat ( capital gain ) dan mendapatkan deviden dari kinerja perusahaan.  Lalu bagaimana kenaikan kekayaan mereka di dapat ?

Pertama.

Para pengusaha pada awalnya merintis atau membeli perusahaan yang belum listing yang sedang berkembang kemudian dengan alasan untuk menambah modal, meningkatkan nilai perusahaan dan untuk lebih meningkatkan akses dan jejaring bisnis dengan perusahaan keuangan maupun investor maka mereka mencatatkan sahamnya di bursa lewat IPO. Biasanya mereka melepas hak kepemilikan sahamnya berkisar 20% sampai dengan 35 %. Dengan bekerjasama dengan perusahaan penjamin emisi mereka membentuk harga yang akan dijual kepada publik berdasarkan nilai aset perusahaan. Penjamin emisi mempunyai tugas membuat prospektus, manawarkan saham kepada publik hingga menjadi pembeli siaga jika saham yang dijual tidak laku. Prospektus biasanya berisi data kinerja perusahaan meliputi data manajemen, pemegang saham, kondisi keuangan hingga potensi dan resiko bisnis dimasa mendatang. Adapun harga saham yang akan dijual tentunya mempunyai harga yang lebih tinggi dari nilai bukunya. Sebagai contoh harga buku saham seharga Rp. 100 / lembar bisa dijual dengan harga Rp. 500/ lembar atau dengan kata lain dijual dengan harga 5x harga bukunya. Bayangkan dalam tempo sekejap harga saham meningkat 5 kali lipat. Peningkatan harga saham ini belum berhenti,  dalam mekanisme bursa harga ini bisa terus meningkat seiring mekanisme pasar. Jangan heran pada hari pertama awal perdagangan saham yang baru dicatatkan dibursa saham bisa melonjak hampir 70 % sebelum biasanya dihentikan oleh regulator lewat auto rejection. Dari ilustrasi tersebut bisa dibayangkan jika pengusaha tersebut mempunya saham dengan nilai sebesar Rp. 100 milyar dalam sekejap harganya meningkat minimal Rp. 500 milyar. Nilai peningkatan tersebut baru dihitung berdasarkan selisih nilai jual antara nilai buku dan nilai penawaran pada saat IPO, belum menambahkan nilai kenaikan pada saat  hari pertama awal perdagangan saham. Nilai saham ini akan terus naik dari tahun ke tahu tentunya seiring dengan kenaikan kinerja perusahaan.

Kedua.

Para pengusaha ini biasanya membeli perusahaan yang sudah listing di bursa baik didalam negeri maupun luar negeri yang sedang mengalami penurunan kinerja. Pembelian saham ini bisa menggunakan perusahannya langsung maupun dititipkan ke perusahaan investasi di luar negeri. Adapun perusahaan yang dipilih adalah yang sedang mengalami penurunan kinerja yang disebabkan karena kesalahan tata kelola perusahaan, tetapi secara bisnis masih mempunyai peluang untuk berkembang. Dengan kinerja yang kurang bagus, tentunya perusahaan ini dibeli dengan nilai murah. Setelah menjadi pemegang saham dan berusaha menjadi pemegang saham pengendali maka selanjutnya adalah menggunakan haknya untuk merubah susunan manajemen dengan memasukan orang-orang yang dinilainya mampu meningkatkan kinerja bisnis. Langkah selanjutnya adalah mengundang investor dan lembaga keuangan untuk membiayai rencana bisnis yang disusun oleh manajemen baru. Bahkan jika memungkinkan manajemen baru tersebut mengusulkan untuk menerbitkan saham baru ( right issue ) kepada pemegang saham lainnya. Dengan mengeluarkan saham baru tentunya nilai aset perusahaan sebagai meningkat. Biasanya langkah kedua ini diikuti dengan agresifitas manajemen melakukan corporate action seperti mencari hutang, menjual aset non produktif maupun produktif, right issue, akuisisi bisnis bahkan merger.  Langkah-langkah corporate action ini biasanya direspon positif  dipasar saham, karena cepat atau lambat akan berdampak terhadap peningkatan harga saham.  Contoh kongkrit kasusnya adalah PT Bimantara Citra Tbk yang dibeli oleh PT Bhakti Investama Tbk  milik Hary Tanoe yang selanjutnya dirubah namanya menjadi PT Global Mediacom. Harga saham PT Bimantara Citra Tbk dan PT Bhakti Investama Tbk meningkat seiring dengan corporate action yang dilakukan oleh kedua manajemen tersebut. Contoh lainya adalah Bank BCA yang dibeli oleh Group Djarum dari BPPN. 

Dalam ekonomi modern kekayaan yang luar biasa banyak didapat dengan mempunyai paper aset dalam bentuk saham dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh ekspetasi pasar yang cukup tinggi hingga kerakusan pelaku ekonomi dengan menggalang dana untuk memenuhi hasrat superiornya menjadi penguasa ekonomi.( FI )


Menjadi Kaya di Pasar Modal Bukan Isapan Jempol

Februari 16, 2008

Yang perlu dilakukan adalah memahami produk dan karakteristik investasi, mampu bertoleransi terhadap risiko yang muncul, serta well inform dan well educated.

Dewasa ini kesadaran masyarakat terhadap investasi makin tinggi. Sejalan dengan meningkatnya nilai transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sejumlah konsultan keuangan juga makin giat menjajakan mengenai strategi investasi di pasar modal. Ada yang beriklan “Menjadi Kaya di Pasar Modal Setelah Pensiun”. “Trik dan Strategi Menangguk Keuntungan di Bursa Saham” dan sebagainya. Munculnya fenomena tersebut memang bukan tanpa sebab, menyusul return yang dihasilkan sejumlah produk investasi konservatif sudah tidak optimal lagi.Bayangkan hanya dalam enam bulan indikator perdagangan saham sudah melonjak puluhan persen. Awal tahun 2007 indeks harga saham gabungan masih berkisar pada level 1.800 poin, tapi pada Juli ini sudah mencapai level 2.400 poin. Kenaikan yang 600 poin setara dengan 25 persen itu menandakan kian menariknya investasi di bursa saham. Mungkin hal itulah yang menjadikan kelas tentang strategi investasi saham dan sejumlah produk derivatif yang ditawarkan banyak konsultan keuangan cukup ramai dikunjungi calon investor.Berbekal indikator kenaikan harga saham yang sangat fantastis itu pula membentuk inspirasi menjadi kaya setelah pensiun di pasar modal memang menjadikan nyata adanya, bukan isapan jempol belaka. Apalagi bila keuntungan tersebut dibandingkan dengan instrumen investasi konservatif yang kini dikenal masyarakat semisal tabungan atau deposito yang kisarannya hanya sekitar tujuh persen setahun. Terkait dengan maraknya ajakan investasi di pasar modal ini, tampaknya segenap pelaku pasar modal perlu menyatakan terima kasih.

Alasannya, makin banyaknya jasa konsultan keuangan yang memberikan pendidikan tentang arti sebuah investasi, maka makin besar peluang investor lokal menjadi tuan rumah di bursa sendiri. Tidak itu saja, makin banyaknya investor berinvestasi di pasar modal dengan sendirinya juga akan membantu upaya pemerintah dalam menggerakkan sektor riil. Namun di tengah euforia tentang keberhasilan bursa saham akhir-akhir ini, calon investor diharapkan juga tidak terlalu overestimated. Karena bagaimana pun investasi selalu mengenal risiko. Untuk itu pemodal perlu memahami risiko investasi, memahami karakteristik produk-produknya, serta produk yang menjadi underlying-nya apabila produk investasi yang ditawarkan merupakan produk derivatif. Perlu diingat bahwa produk investasi pasar modal pun tidak menjanjikan keuntungan yang pasti.

Yuridiksi Pasar Modal.

Sebagai wahana dan alternatif investasi, Pasar Modal berpayungkan UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pelaksana dari UU Pasar Modal ini adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sebuah instansi setaraf eselon satu pada Departemen Keuangan. Sedangkan penyelenggara perdagangan adalah bursa, yakni Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Kedua bursa ini didukung sebuah lembaga kliring dan sebuah lembaga penyimpanan yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).Produk pasar modal lazimnya didahului dengan istilah efek. Efek yang bersifat utang disebut juga obligasi, efek yang bersifat kepemilikan adalah saham, sedangkan efek yang bersifat penyertaan disebut sebagai reksa dana. Di samping efek tersebut, pasar modal juga mengenal efek derivatif atau instrumen investasi yang patokannya (underlying) adalah efek tertentu yang dijajakan di pasar modal. Misalnya right atau hak yang merupakan turunan dan saham, lalu waran berupa sweeteners yang juga merupakan turunan dari saham. Produk derivatif saham lainnya adalah apa yang dinamakan sebagai KOS yakni kontrak investasi saham (KOS) yang underlying adalah beberapa jenis saham yang ditentukan oleh BEJ.

Sementara itu turunan obligasi ada yang dinamakan obligasi konversi, atau obligasi yang bisa dikonversi menjadi saham, lalu ada obligasi tukar yang bisa ditukar dengan aset tertentu. Sedangkan untuk unit penyertaan atau reksa dana, variasi produknya adalah untuk kepentingan apa reksa dana itu dibentuk. Apabila reksa dana dibentuk untuk investasi saham, maka reksa dana tersebut disebut sebagai reksa dana saham. Kalau reksa dana dibentuk untuk obligasi dikatakan reksa dana obligasi atau fixed income. Sementara reksa dana yang dibentuk untuk obligasi dan saham dikatakan sebagai reksa dana campuran. Reksa dana yang dibentuk untuk perdagangan surat berharga, seperti pasar uang dan valas maka dikatakan sebagai reksa dana pasar uang. Tiap-tiap reksa dana ini merupakan kontrak investasi kolektif atau sederhananya adalah sebuah kontrak investasi dengan tujuan yang telah disepakati bersama sesuai dengan tujuan pembentukannya.Yang patut diingat bahwa tiap kali reksa dana itu ditawarkan harus melalui penawaran umum. Melalui prosedur sebagaimana go public dan harus diperolehnya pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Produk-produk investasi tersebut memiliki risiko. Risiko utamanya adalah risiko pasar, sehingga tidak ada janji atau iming-iming keuntungan sebagaimana investasi bodong yang kini banyak terungkap. Yang dilakukan di pasar modal adalah me-maintenance risiko atau meminimalkan risiko. Karenanya investasi di pasar modal sarat dengan berbagai faktor, faktor ekonomi, faktor pasar, sosial politik, bahkan pengaruh faktor yang sama dari eksternal, misalnya faktor ekonomi regional, faktor pasar regional dan faktor sosial politik regional.

Risiko Investasi.

Tiap-tiap produk investasi di pasar modal memiliki risiko investasi. Risiko investasi adalah bila tingkat keuntungan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saham sebagai bukti kepemilikan yang menjadi faktor risiko utamanya adalah kerugian yang muncul akibat harga beli lebih tinggi ketimbang harga jual. Faktor kerugian ini sekaligus menjadi keuntungan apabila harga saham yang dibeli ternyata ketika dijual harganya lebih tinggi sehingga investor memperoleh capital gain. Di samping capital gain, investor juga memperoleh dividen yakni berupa pembagian laba yang biasanya dibagi setahun sekali.Risiko obligasi adalah apabila tingkat bunga yang ditawarkan pada waktu tertentu ternyata lebih tinggi ketimbang obligasi yang dibeli. Wanprestasi atau tidak terbayarnya obligasi juga menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan investor. Sedangkan risiko reksa dana adalah apabila harga saham yang dibeli mengalami penurunan sehingga akan menurunkan nilai unit penyertaan investor.

Risko KOS juga relatif sama, apabila investor melakukan kontrak beli pada harga yang diprediksi tinggi namun ternyata harga saham yang menjadi underlying turun dengan demikian investor tersebut harus menanggung rugi. Intinya semakin tinggi risiko maka peluang memperoleh keuntungan atau kerugian yang tinggi juga besar.Kendati memiliki risiko, daya tarik investasi di pasar modal adalah investor tetap memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan di masa datang. Contohnya apabila investasi saham investor mengalami penurunan (harga beli lebih rendah ketimbang harga jual) maka investor bisa melakukan hold atau menyimpan saham tersebut, menunggu saham tersebut kembali naik atau menyimpan dalam kurun waktu setahun sehinga berhak memperoleh dividen. Karena itu investasi di pasar modal lebih bersifat jangka panjang, bisa sebagai tabungan dan sebagainya. Hal yang sama juga bisa diperoleh dari reksa dana. Misalnya NAB reksa dana saham turun, dan sebagai investor yang berpikir jangka panjang tidak akan melakukan penjualan (redepmtion) atas saham tersebut karena masih ada peluang NAB saham itu kembali naik, atau bisa melakukan redemption pada reksa dana tersebut lalu pindah ke reksadana jenis lain.Risiko investasi dan seluk beluk produk investasi di pasar modal ini memang patut dipahami oleh investor. Karena dengan iklim investasi di pasar modal yang sangat kondusif seperti saat ini banyak produk yang “menyerupai” produk pasar modal banyak ditawarkan bahkan dengan iming-iming janji keuntungan segala. Karenanya untuk menjadi kaya di pasar modal yang perlu dilakukan adalah memahami produk dan karakteristik investasi, lalu sejauh mana mampu bertoleransi terhadap risiko yang muncul serta well inform dan well educated. (tim bej)  


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.